Jokowi Bakal Menang Telak di Pilpres 2019, Apa Sebab?

advertise here
Jokowi dan Prabowo berjabat tangan (Foto: Pontas.id)

AMENROOM.COM - Elektabilitas Joko Widodo-KH Ma'ruf Amin masih tinggi dan kian melambung menjelang hari pencoblosan 17 April 2019. Dari 7 lembaga survei yang udah ngerilis survei terbarunya, Jokowi unggul dengan selisih jauh dari pasangan Prabowo-Sandi. Bahkan, pengamat memprediksi kemenangan Jokowi pada Pilpres kali ini akan lebih telak dibanding Pilpres 2014.

Kubu Prabowo-Sandiaga Uno mengakui posisinya memang masih kalah dibanding Jokowi-KH Ma'ruf Amin, namun menurut Sandiaga selisihnya nggak jauh dari yang disebutkan oleh sejumlah lembaga survey.

"Kalau di kami (survey internal Prabowo-Sandi) sudah sangat ketat. Sudah single digit dan kami cross 40 persen," kata Sandiaga saat menghadiri relaunching produk The Sandi Uno di sebuah kafe Jalan Adityawarman, Jakarta Selatan, Senin (4/2/2019) seperti dikutip dari DetikNews.

Posisi kayak gini biasanya akan cenderung konsisten hingga saat pencoblosan. Artinya, kemenangan telak sudah berada di tangan Jokowi. Tapi perubahan sudah pasti terjadi kalau Pak Jo tiba-tiba keserempet lidah ngomong ngawur kayak zamannya Ahok alias BTP waktu Pilkada DKI dulu.Atau Pak Jo menjelang hari H pencoblosan memutuskan ngambil kebijakan tidak populer. Misalnya naikin harga BBM. Kalau itu terjadi, barulah elektabilitas Pak Jokowi bakal anjlok dan Prabowo-Sandi bisa menang.

Prabowo-Sandi boleh bangga karena cukup menang telak di media sosial, tapi mereka harus sadar kalau pemilihan presiden bukan di dunia maya, tapi dunia nyata. 

Sebelum kita ngebahas apa yang menyebabkan peluang kemenangan Jokowi sangat tinggi, kita simak dulu hasil survei terbaru awal 2019 ini :

1. LSI Denny JA
Waktu survei = 18-25 Januari 2019
Jokowi-Ma'ruf Amin = 54,8 persen. Prabowo-Sandiaga = 31,0 persen suara.
Belum menentukan pilihan = 14,2 persen

2. Populi Center
Waktu survei = 20-27 Januari 2019.
Metode = wawancara tatap muka di 34 provinsi.
Jokowi-Ma'ruf = 54,1 persen
Prabowo-Sandiaga = 31,0 persen.
Dari 1.486 responden, 14,9 persen tidak memberikan jawaban

3. Charta Politika
Waktu survei = 22 Desember 2018 - 2 Januari 2019
Jokowi-Ma'ruf Amin = 53,2 persen suara
Prabowo-Sandiaga = 34,1 persen suara
Tidak tahu harus memilih siapa, atau tidak memberikan jawaban = 12,7 persen


4. Indikator Politik
Survei dilakukan pada 16-26 Desember 2018
Jokowi-Ma'ruf = 54,9 persen
Prabowo-Sandiaga = 34,8 persen
Tidak tahu atau tidak memberikan jawaban = 9,2 persen
Golput = 1,1 persen


5. Y-Publica
Survei ini dilakukan pada 26 Desember 2018 hingga 8 Januari 2019
Jokowi-Ma'ruf Amin= 53,5 persen suara
Prabowo-Sandiaga = 31,9 persen suara
Belum memutuskan pilihan atau tidak memberikan jawaban = 14,6 persen

6. Survei Median
Waktu survei 6-15 Januari 2019
Jokowi-Ma'ruf Amin = 47,9 persen suara
Sedangkan Prabowo-Sandiaga = 38,7 persen suara
Margin of error = 2,5 persen
Tingkat kepercayaan 95 persen

7. Saiful Munjani Research & Consulting (SMRC)
Survei SMRC terbaru 7-14 September 2018
Metode: multistage random sampling
Tingkat kepercayaan 95 persen
Jokowi-Ma'ruf = 60,4 persen
Prabowo-Sandiaga = 29,8 persen
Responden tidak memberikan jawaban = 9,8 persen

8. Litbang Kompas
Waktu survei =  24 September hingga 5 Oktober 2018
Jokowi-KH Ma'ruf Amin = 52,6 persen
Prabowo-Sandiaga = 32,7 persen 

Terus apa sebabnya sih Jokowi sulit ditandingi?

1. Jokowi Adalah Petahana
Posisi Jokowi sebagai capres petahana atau inkumben membuka peluang baginya memenangi Pilpres 2019 ini. Dengan posisinya itu, Jokowi menguasai berbagai aspek instrumen yang dapat membuatnya menang.

2. Jokowi Punya Pendukung Tokoh Nasional yang Banyak Dikagumi
Jokowi didukung tokoh nasional yang merupakan kepala daerah yang banyak dikagumi masyarakat Indonesia, seperti  Tri Rismaharini (Walikota Surabaya), Ganjar Pranowo (Gubernur Jawa Tengah), Ridwan Kamil (Gubernur Jawa Barat), M Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (TGB) yang merupakan mantan Gubernur NTB, serta tokoh lainnya. Sosok tokoh nasional yang populer dengan prestasi seperti ini tidak dimiliki kubu Prabowo-Sandi.

3. Partai Pengusung dan Pendukung Lebih Banyak dari Pilpres 2014
Waktu Pilpres 2014, kubu Prabowo lebih banyak didukung parpol dan kalah. Apa lagi saat ini, Parpol yang berada di pihak Prabowo lebih sedikit. Dengan banyaknya mesin partai, maka caleg dan kader partai itu otomatis memihak ke Jokowi dan jelas peningkatan jumlah pemilih bagi Jokowi lebih besar dibanding 2014.

4. Menguasasi Media Nasional
Bergabungnya Harry Tanoe dan Partai Perindo ke kubu Jokowi, cukup menguntungkan Jokowi. Dulu, hanya Surya Paloh dengan Metro TV yang secara terang-terangan mengumandangkan Jokowi. Kini media yang merapat ke Jokowi lebih banyak.

Tanpa MNC Grup saja, Jokowi bisa menang melawan Prabowo, apalagi didukung media milik Harry Tanoe dan media lainnya yang memihak ke Jokowi. Meski dalam pemberitaan tetap ada kode etik jurnalisme, setidaknya pada penayangan iklan, porsi Jokowi muncul akan lebih banyak di televisi.

5. Tingkat Kepercayaan Warga Indonesia Tengah dan Timur yang Tinggi Terhadap Jokowi
Sosok Jokowi sangat disukai warga di kawasan Indonesia Bagian Tengah dan Timur. Infrastruktur yang dibangun massif untuk kawasan ini dan juga realisasi harga BBM yang sama dengan di Pulau Jawa membuat Jokowi kian kuat di Indonesia Tengah dan Timur.

Berkomentarlah dengan santun, tunjukkan bahwa kita bangsa beradab

Click to comment